Tampilkan postingan dengan label biology ( my patient ). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label biology ( my patient ). Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Maret 2011

Bufo sp.



Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Subfilum : Vertebrata
Kelas : Amphibi
Ordo ; Anura
Genus : Bufo
Species : Bufo sp.

Secara umum, tubuh kodok terbagi atas terdiri atas empat bagian yaitu bagian caput (kepala), cervix (leher), truncus (badan), dan extrimitas (anggota badan). Anatomi eksternal dari Bufo sp. terdiri atas caput (kepala), cervix (leher) yang kurang jelas bagiannya karena pada daerah tersebut terjadi penebalan pada kulitnya, truncus (badan) dan extrimitas (anggota badan). Anatomi internal dari Bufo sp. Terdiri atas cor (jantung), hepar (hati), ventriculus, intestinum (usus), vesica urinaria, dan pulmo.
Inspectio merupakan anatomi eksternal dari Bufo sp. yang terdiri atas empat bagian yaitu bagian caput (kepala), cervix (leher), truncus (badan), dan extrimitas (anggota badan). Sectio merupakan anatomi internal dari Bufo sp. diantaranya cor (jantung), hepar (hati), ventriculus, intestinum (usus), vesica urinaria (gelembung kencing) dan pulmo.
Perbedaan Bufo sp. Dan Rana sp.
Rana dan bufo adalah dua contoh spesies dari Anura yang sering dipelajari. Tubuh Rana dan Bufo dewasa pada umumnya dibedakan atas kepala, badan dan anggota gerak. Bufo mempunyai badan berbentuk bulat, sedangkan badan Rana berbentuk langsing memanjang. Rana mempunyai penonjolan pada tempat persendian antara columna vertebralis dengan gelang panggul. Ujung posterior badan terdapat kloaka. Kulit Bufo berbintil-bintil kasar dan kering, sedangkan pada Rana dapat berwarna karena adanya kromatofor yang terdiri atas melanofor yang mengandung pigmen hitam dan coklat, serta lipo yang mengandung pigmen merah, kuning, dan orange.

Topografi Organ Dalam Bufo sp.:

• Cor : dexter + sinister (diantara) pulmo
• Pulmo : dexter + sinister (diantara) cor
• Gland bladder : cauda cor
• Hepar : cauda dari pulmo
• Intestinum tenum : sinister hepar
• Ventrikulus : inferior hepar
• Ren : inferior intestinum tenum
• Fat body : posterior pankreas
• Testis : posterior intestinum
• Pankreas : dexter hepar
• Intestinum crassum : dexter ren
• Kloaka : arah caudal



1. Deskripsi Pengamatan


Pengamatan anatomi eksternal

Pada pengamatan anatomi eksternal Bufo sp. diperoleh hasil bahwa tubuhnya terdiri dari beberapa bagian yaitu caput, cervix, truncus, extrimitas, dan integumentum. Caput berbentuk seperti segitiga yang terdiri atas rima oris (celah mulut) yang terletak pada ujung rostrum (moncong), cavum oris (rongga mulut), nares anteriores yang merupakan lubang hidung kecil pada dorsal rima oris, organon visus, dan membrana tympani di belakang organon visus. Di dalam cavum oris terdapat organ-organ lain yang berupa maxilla (rahang atas), mandibula (rahang bawah), os vomer yang berbentuk huruf V dan terdapat dentes, nares posteriores sive choanae di kanan kiri os vomer yang berbentuk lubang kecil, palatum yang melekat pada maxilla karena merupakan atap mulut, lingua (lidah) yang berpangkal di mandibula, berwarna merah muda dan bercabang serta ostium tubae auditivae yang terletak di dekat sudut mulut dan terdapat 2 buah. Sama halnya dengan cavum oris, organon visus juga dilengkapi beberapa organ di dalamnya yaitu palpebra superior (pelupuk mata atas), palpebra inferior (pelupuk mata bawah), pupil yang berwarna hitam, berukuran kecil, iris berwarna bening terletak disekitar pupil, dan membrana nictitans.

Cervix pada amphibi tidak tampak nyata karena bersatu dengan truncus yang terletak di sebelah caudal caput. Pada truncus terdapat 2 pasang extrimitas yaitu extrimitas anterior yang terdiri dari brachium (lengan atas), antebrachium (lengan bawah), manus (tangan secara keseluruhan), dan digiti (jari-jari) sebanyak 4 buah serta extrmiitas posterior yang terdiri dari femur (paha), crus (tungkai bawah), pes sive pedes (kaki secara keseluruhan), digiti sebanyak 5 buah dan membrana yang berupa kulit tipis dan terletak di sela-sela digiti. Digiti berukuran kecil dan melebar serta dilengkapi kuku yang berwarna hitam.

Bagian integumentum pada amphibi terdiri dari 2 bagian yaitu epidemis dan dermis (corium). Epidermis Bufo sp. berwarna cokelat dan memiliki benjolan-benjolan kecil berwarna hitam sehingga kulitnya menjadi kasar.



Pengamatan anatomi internal

Organ-organ yang berada di dalam tubuh Bufo sp. akan tampak setelah dilakukan proses seksi seperti pada langkah kerja. Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, organ dalam dari spesimen ini terdiri atas pulmo, pankreas, intestinum tenue, intestinum crasum, kloaka, telur, ventriculus, vesica fellea, hepar, spleen, ren, dan cor. Pulmo terletak di dekat hepar, berwarna putih, mengembung dan didalamnya terdapat gelembung-gelembung kecil. Di sebelah pulmo terdapat cor, berwarna merah kecoklatan yang terdiri dari 2 atrium dan 1 ventrikel. Tepat dibawah cor terdapat spleen yang warnanya hampir sama dengan cor yaitu merah kecoklatan. Spleen menyatu dengan hepar yang berwarna merah cokelat, terdiri dari 2 lobus yaitu lobus dexter dan lobus sinister yang ukurannya lebih besar daripada lobus dexter karena memiliki 2 lobuli. Hepar terletak di ventro caudal. Diantara lobus hepar, terdapat vesica fellea yang berwarna hijau kehitaman. Di bawah hepar ditemukan ventriculus yang berwarna merah muda dan berhubungan dengan intestinum crasum serta intestinum tenue yang keduanya berwarna abu-abu terletak di lateral ventral. Diantara ventriculus dan intestinum melekat pankreas yang berwarna kuning dan berukuran kecil. Selain itu, diperoleh ren yang melekat pada columna vertebralis berjumlah 2 pasang dan berwarna merah cokelat. Ren ini juga terhubung pada kloaka yang berada di daerah caudal. Kemudian, diperoleh juga telur dari Bufo sp. yang berwarna hitam, berukuran besar dan hampir menutupi bagian organ dalam yang lain. Hal ini menandakan bahwa jenis kelamin dari amphibi tersebut adalah betina.



2. Deskripsi Literatur

Katak dan kodok menempati keanekaragaman habitat yang terbesar. Lebih dari 3450 spesies katak dan kodok yang termasuk dalam ordo Anura. Cara bereproduksi di air dan kulit yang tahan air dapat mencegah mereka dari kekurangan sumber air. Nama dari ordo Anura merujuk pada ciri-ciri kelompok yang jelas yaitu kehilangan ekor saat dewasa (Hickman, Robert, dan Larson, 2001).

Meskipun istilah “katak” dan “kodok” digunakan untuk menggambarkan spesies dari ordo Anura, namun diantara keduanya terdapat perbedaan. Istilah katak digunakan untuk amphibi yang berkulit mulus dan hidup di air atau di dekatnya. Sedangkan kodok digunakan untuk amphibi yang memiliki kulit berbintil-bintil atau hidup di dalam habitat lebih kering. Kodok merupakan anggota dari Bufonidae. Berdasarkan struktur anatominya, anggota dari Bufonidae memiliki ciri utama yaitu kedua belahan garis tengah lingkaran bahunya saling tumpang tindih pada bagian perutnya (arciferal) dan ruas tulang belakangnya yang proccelous (bagian tengah ruas tulang belakang yang berbentul, cekung pada bagian depannya). Anggota genus Bufo sangat mudah dibedakan dari anggota ordo Anura lainnya. Badannya pendek dan rendah, kakinya pendek, kulitnya kering dan tertutup tonjolan-tonjolan atau bintil-bintil (Redaksi Ensiklopedi Indonesia, 1989). Selain itu, Bufo atau kodok juga mengalami metamorfosis dari berudu, tetapi spesies ini hanya bisa bertahan pada arus sedang. Pada spesies ini, mulut dimodifikasi untuk dapat bertahan di atas dasar air (Iskandar, 2002).

Tidak hanya mulut yang mempunyai fungsi tertentu, tetapi bagian organ lainnya dari kodok juga memiliki masing-masing fungsi. Contohnya seperti kulit yang merupakan bagian terluar sari kodok. Kulit pada amphibi sangat penting dalam respirasi dan proteksi. Kulit yang tipis fleksibel membagi bagian luar badan untuk melindungi organisme terhadap penyakit, berfungsi dalam pernapasan, penyerapan air, sebab kodok tidak pernah minum. Di lengkapi dengan kelenjar mukosa yang menyebabkan kulit terjaga kelembabannya, bagi spesies yang hidup di air, mukus memberikan minyak pelumas bagi tubuh. Sebagian besar memiliki kelenjar granular dan kelenjar mukus. Keduanya mirip, akan tetapi hasil produksinya berbeda. Keduanya dikelompokkan sebagai kelenjar alveolar yaitu kelenjar yang tidak mempunyai saluran pengeluaran, tetapi produknya di keluarkan lewat dinding selnya sendiri secara alami. Kelenjar granular yang besar memproduksi bahan basophilic dan alcianophilic yang berperan untuk pembentukan gelembung besar sebagai kelenjar paratoid (de Almeida, Felsemburgh, Azevedo, dan de Brito-Gitirana, 2007) .

Ada beberapa organ lain yang tersusun dalam macam-macam sistem antara lain:

1. Sistem Rangka

Rangka dari kodok terdiri atas tulang dan kartilago (tulang rawan) yang berfungsi untuk menyokong beberapa bagian tubuh, melindungi organ-organ kecil seperti otak dan urat saraf tulang belakang, dan menyediakan permukaan sebagai alat tambahan dari otot rangka. Rangka vertebrata terdiri dari rangka somatik dan rangka dalam. Pada kodok, rangka dalam secara pokok ditunjukkan dengan alat-alat hyoid, struktur tulang kecil dan kartilago yang menyokong dasar mulut, dasar lidah dan bagian dari rahang serta laring. Rangka luar yang tersusun oleh tulang digunakan untuk menegakkan anggota tubuh seperti pada kaki. Kaki kodok terdiri atas sepasang kaki depan dan sepasang kaki belakang. Kaki depan terdiri atas lengan atas (brancium), lengan bawah (antebrancium), tangan (manus), dan jari-jari (digiti). Pada kaki belakang terdiri atas paha (femur), betis (crus), kaki (pes) dan jari-jari (digiti). Secara umum jumlah jari tungkai depan biasanya empat jari dan tungkai belakang lima jari. Pada tungkai belakang memanjang yang berpotensi untuk melompat. Kadang-kadang dijumpai jari tambahan sebagai prehaluk pada sisi ventral kaki. Prehaluk ini pada Spadefoot (katak penggali tanah) berupa tulang -tulang keras yang digunakan untuk menggali tanah sebagai tempat bersembunyi (Radiopoetro, 1996).

2. Sistem Otot

Rangka otot pada saat dewasa akan beradaptasi dengan baik untuk berenang dan bergerak di darat. Secara khusus rangka otot terdiri dari suatu titik pengatur yang disebut origin dan titik penggerak yang disebut insersi. Otot ini terdapat di seluruh bagian tubuh termasuk di daerah rongga mulut yang di dalamnya terdapat maxillary teeth pada batas teratas rangka, vomerine teeth pada langit-langit mulut yang berfungsi untuk memperoleh makanan daripada untuk mengunyah karena makanan ditelan seluruhnya. Selain itu, terdapat pula internal nares, slauran eustachi, dan mulut serta alat tambahan lainnya.



3. Sistem Pencernaan

Alur sistem pencernaan dimulai dari mulut dan rongga mulut. Di belakang lidah terdapat faring dan di dalamnya ada esofagus yang pendek, berbentuk saluran silindris yang menjadi jalan masuknya makanan ke perut yang di dalamnya terdapat intestinum tenue. Bagian anterior dari intestinum tenue adalah duodenum yang berfungsi untuk menerima sekresi dari liver dan pankreas melalui saluran empedu. Di belakang duodenum terdapat lilitan ileum, yaitu bagian posterior dari intestinum tenue yang melengkapi pencernaan dan merupakan tempat terjadinya seluruh penyerapan sari-sari makanan dalam aliran darah. Ileum tersebut menyalurkan sari-sari makanan ke intestinum crasum, dimana hampir seluruh air, vitamin dan ion dapat diserap sebaik mungkin. Bagian batas akhir intestinum crasum adalah kloaka. Kloaka biasanya merupakan tempat untuk mengumpulkan bahan-bahan dari pencernaan, ekskresi, dan sistem reproduksi.

4. Sistem respirasi

Kodok dewasa membutuhkan pertukaran gas dengan menggunakan 3 bagian tubuh mereka yang berbeda yaitu kulit,paru-paru, dan lapisan rongga mulut serta faring. Kemudian, terdapat pula external nares yang terletak pada bagian depan kepala dan internal nares pada atap rongga mulut. Nares berfungsi sebagai slauran masuknya udara lalu masuk ke rongga hidung yang berhubungan dengan internal dan external nares di tiap sisi. Dari faring bagin belakang ke rongga mulut, udara melalui glottis ke dalam laring yang terbagi dalam 2 saluran bronchial atau bronchi. Kedua saluran bronchi tersebut berhubungan dengan paru-paru yang terletak di dorsal jantung dan hepar (Lytle dan Meyer, 2005).

5. Sistem peredaran darah

Seperti pada pisces, sistem peredaran darah amphibi adalah sistem peredaran darah tertutupyang mempunyai tiga bilik jantung dengan 2 atrium dan 1 ventrikel. Darah dari tubuh, pertama masuk ke sinus venosus yang menekan darah ke dalam atrium kanan. Atrium kiri menerima darah yang mengandung oksigen segar dari paru-paru. Kedua atrium tersebut berkontraksi hampir secara bersamaan menggerakkan bagian kanan dan kiri pembuluh darah atrium ke ventrikel. Walaupun ventrikel tidak terbagi, bekas darah tetap dipisahkan. Pemisahan ini di bantu dengan klep spiral yang dibagi antara arus sistem perdaran darah dan arus paru-paru dalam conus posteriores.

6. Sistem saraf

Tiga bagian pokok dari otak adalah otak depan (telencephalon), otak tengah (mesencephalon), dan otak belakang (rhombencephalon). Otak depan merupakan pusat penciuman yang berguna untuk mendeteksi bau busuk di daratan dan menjadi indera khusus pada kodok. Otak belakang berhubungan dengan pendengaran dan keseimbangan, terbagi ke dalam sebuah cerebellum anterior dan medulla posterior. Cerebellum dihubungkan dengan keseimbangan dan koordinasi gerak yang pada amphibi perkembangannya tidak baik. Sama halnya dengan cerebellum, struktur dari telinga kodok juga merupakan struktur yang sederhana. Telinga tengah ditutupi dengan membran timpani yang lebar dan berisi columella yang berfungsi untuk meneruskan getaran ke telinga dalam.

Selain otak depan dan belakang, otak tengah juga berfungsi sebagai pusat penglihatan yang merupakan indera khusus bagi kebanyakan amphibi. Beberapa modifikasi mata telah terjadi dari nenek moyang amphibi yang dulu memiliki mata hanya untuk di dalam air saat ini dapat digunakan untuk adaptasi mereka selama di daratan. Tidak seperti mata ikan, mata amphibi pada saat istirahat dapat mengatur untuk mencegah adanya benda asing dan lensa dapat digerakkan ke depan menuju fokus objek terdekat. Di bagian mata terdapat retina yang berisi bentuk batang dan kerucut, berfungsi memberikan warna pada penglihatan kodok. Lalu, ada pula iris yang berisi otot sirkular dan radial yang berkembang baik. Iris dapat dengan cepat mengembangkan atau melakukan kontraksi pupil untuk mengatur perubahan cahaya. Bagian atas permukaan pelupuk mata bentuknya telah ditentukan, tetapi pada bagian bawah permukaan pelupuk mata dibungkus dengan membran nictitans yang transparan dan berguna untuk mempermudah lintasan pergerakan permukaan mata(Hickman, Robert, dan Larson, 2001).




7. Sistem urogenital

Ekskretori dan organ reproduksi bersatu dalam sistem urogenital. Ginjal adalah organ ekskresi pertama pada kodok yang berperan dalam pemindahan seluruh sampah atau ampas dari tubuh, meskipun beberapa ampas juga terbuang melalui kulit. Ginjal memindah sampah nitrogen dari darah yang diekskresikan dalam larutan berbentuk urea dan amonia. Organ penting ini jugs mempunyai peranan dalam homeostasis. Organ reproduksi pada kodok betina dan jantan berbeda. Kodok betina memiliki ovary yang terletak di sebelah dekat dorsal dan tergantung dalam rongga dengan sebuah mesentery, lilitan oviduk deengan bentuk corong yang membuka, ostium pada akhir anterior dan uterus yang meluas dekat kloaka. Dii dalam kloaka terdapat kandung kemih (vesica urinaria). Pada kodok jantan terdapat 2 testis yang tiap testisnya tergantung oleh mesentery dari dinding dorsal abdominal, beberapa vasa deferentia yaitu saluran kecil yang membawa sperma dari testis menuju ginjal. Sperma tersebut di bawa dari ginjal ke kloaka melalui ureter yang menjadi saluran genital pada jantan .

Sabtu, 26 Maret 2011

morfologi dan anatomi pisces




Morfologi adalah ilmu yang mempelajari bentuk luar suatu organisme. Bentuk luar dari organisme ini merupakan salah satu ciri yang mudah dilihat dan diingat dalam mempelajari organisme. Adapun yang dimaksud dengan bentuk luar organisme ini adalah bentuk tubuh, termasuk di dalamnya warna tubuh yang kelihatan dari luar. Pada dasarnya bentuk luar dari ikan dan berbagai jenis hewan air lainnya mulai dari lahir hingga ikan tersebut tua dapat berubah-ubah, terutama pada ikan dan hewan air lainnya yang mengalami metamorfosis dan mengalami proses adaptasi terhadap lingkungan (habitat). Namun demikian pada sebagian besar ikan bentuk tubuhnya relatif tetap, sehingga kalaupun terjadi perubahan, perubahan bentuk tubuhnya relatif sangat sedikit.
Bentuk tubuh pada mahluk hidup, termasuk pada hewan air juga erat kaitannya dengan anatomi, sehingga ada baiknya sebelum melihat anatominya; terlebih dahulu kita melihat bentuk tubuh atau penampilan (morfologi) hewan air tersebut. Morfologi adalah bentuk tubuh (termasuk warna) yang kelihatan dari luar. Bentuk tubuh pada mahluk hidup, termasuk pada hewan air erat kaitannya dengan anatomi, sehingga ada baiknya sebelum melihat anatominya; terlebih dahulu kita melihat bentuk tubuh atau penampilan (morfologi) hewan air tersebut.
Pada dasarnya morfologi dari setiap jenis hewan air yang masih dekat kekerabatanya mempunyai kemiripan-kemiripan, seperti anatomi dan morfologi udang, kepiting dan lobster hampir mirip. Hal yang sama juga akan kita dapati pada berbagai jenis ikan serta pada berbagai jenis hewan lainya.
Pada dasarnya kita mengenal berbagai jenis hewan air, diantaranya yang paling umum kita kenal adalah ikan, udang, moluska, amfibi, dan sebagainya. Adapun yang dimaksud dengan ikan adalah hewan bertulang belakang (vertebrata) yang berdarah dingin, hidup diair, bergerak dan mempertahankan keseimbangan tubuhnya dengan menggunakan sirip; dan bernafas dengan insang, namun selain menggunakan insang ada juga ikan yang memiliki alat pernafasan tambahan yang fungsinya sama dengan “paru-paru”.

Ikan
Pada ikan dan pada hewan air lainnya pada umumnya bagian tubuh dibagi menjadi tiga bagian yakni bagian kepala, badan dan ekor (Gambar 1), namun pada setiap jenis ikan ukuran bagian-bagian tubuh tersebut berbeda-beda tergantung jenis ikannya (perhatikan morfologi ikan pada Gambar 3) . Adapun organ-organ yang terdapat pada setiap bagian tersebut adalah:



1. Bagian kepala yakni bagian dari ujung mulut terdepan hingga hingga ujung operkulum (tutup insang) paling belakang. Adapun organ yang terdapat pada bagian kepala ini antara lain adalah mulut, rahang, gigi, sungut, cekung hidung, mata, insang, operkulum, otak, jantung, dan pada beberapa ikan terdapat alat pernapasan tambahan, dan sebagainya.
2. Bagian badan yakni dari ujung operkulum (tutup insang) paling belakang sampai pangkal awal sirip belang atau sering dikenal dengan istilah sirip dubur. Organ yang terdapat pada bagian ini antara lain adalah sirip punggung, sirip dada, sirip perut, hati, limpa, empedu, lambung, usus, ginjal, gonad, gelembung renang, dan sebagainya.
3. Bagian ekor, yakni bagian yang berada diantara pangkal awal sirip belakang/dubur sampai dengan ujung terbelakang sirip ekor. Adapun yang ada pada bagian ini antara lain adalah anus, sirip dubur, sirip ekor, dan pada ikan-ikan tertentu terdapat scute dan finlet, dan sebagainya.


Bentuk tubuh atau morfologi ikan erat kaitannya dengan anatomi, sehingga ada baiknya sebelum melihat anatominya; terlebih dahulu kita lihat bentuk tubuh atau penampilan (morfologi) ikan tersebut. Dengan melihat morfologi ikan maka kita akan dapat mengelompok-ngelompokan ikan/hewan air, dimana sistem atau caranya mengelompokan ikan ini dikenal dengan istilah sistematika atau taksonomi ikan. Dengan demikian, maka sistematika atau taksonomi ini merupakan ilmu yang digunakan untuk mengklasifikasikan ikan/hewan air atau hewan lainnya.
Pada sistematika/taksonomi ini, ada tiga pekerjaan yang biasa dilakukan, yakni identifikasi, klasifikasi dan pengamatan evolusi. Pada identifikasi yaitu usaha pengenalan dan deskripsi yang teliti dan tepat terhadap suatu jenis/spesies untuk selanjutnya memberi nama ilmiahnya sehingga dapat diakui oleh para ahli di seluruh dunia. Dengan demikian, maka dapat dikatakan bahwa pada saat kita melakukan identifikasi sama halnya dengan kita melakukan analisis. Setelah melakukan identifikasi selanjutnya melakukan klasifikasi, pada tahap ini dilakukan penyususnan kategori-kategori yang lebih tinggi dan menetapkan ciri-cirinya sehingga pada akhirnya akan diketemukan klasifikasinya. Dengan melihat hal ini, maka dapat dikatakan bahwa klasifikasi merupakan taraf untuk melakukan sintesis. Adapun pada penelitian terjadinya spesies dan pengamatan terhadap faktor-faktor evolusi, bertujuan untuk mengetahui pembentukan spesies lain yang sudah ada dan menelaah kemungkinan terjadinya perubahan-perubahan di kemudian hari. Untuk mencapai tujuan ini maka dilakukan penelaahan kemungkinan terjadinya perubahan pada saat terjadi perubahan kondisi dan menelaah faktor pendorong dan penghambat perubahan tersebut. Adapun morfologi ikan yang terlihat dengan jelas dari luar antara lain adalah bentuk badan, mulut, cekung hidung, mata, tutup insang, sisik, gurat sisi (linea lateralis/LL), sirip dada, sirip perut, sirip punggung, sirip belakang, dan sirip ekor, bentuk dari sirip-sirip tersebut serta warna badan dan atau bagian-bagian badan tersebut.


1. Bentuk tubuh ikan
Antara jenis yang satu dengan jenis lainnya berbeda-beda. Perbedaan bentuk tubuh ini pada umumnya disebabkan oleh adanya adaptasi terhadap habitat dan cara hidupnya. Adapun bentuk-bentuk tubuh ikan tersebut dibagi dua yakni ikan yang bersifat
a. Simetri bilateral yaitu ikan yang apabila dibeah ditengah dengan potongan sagital, maka kita akan mendapatkan hasil yang sama persis antara bagian kiri dan bagian kanannya
b. Non simetri bilateral yaitu ikan yang apabila dibeah ditengah dengan potongan sagital, maka kita akan mendapatkan hasil yang berbeda antara bagian kiri dan bagian kanannya
a. Simetri bilateral
Dilihat dari bentuk tubuh terutama dari penampang melintangnya ada beberapa macam bentuk tubuh ikan simetri bilateral, bentuk-bentuk tersebut adalah:
1 Pipih/kompres yakni ikan yang bertubuh pipih atau dengan kata lain lebar tubuh jauh lebih kecil dibanding tinggi tubuh dan panjang tubuh seperti yang tertera pada Gambar 4
2 Picak/depres yakni ikan yang lebar tubuhnya jauh lebih besar dari tinggi tubuhnya (Gambar 5)
3 Cerutu/fusiform yakni ikan dengan tinggi tubuh yang hampir sama dengan lebar dan panjang tubuhnya beberapa kali ukuran tingginya (Gambar 6)
4 Ular/sidat yakni ikan yang bentuk tubuhnya menyerupaibelut atau ular (Gambar 7)
5 Tali/filiform yakni ikan yang bentuk tubuhnya menyerupai tali (Gambar 8)
6 Pita/taeniform/flattedform yakni ikan yang bentuk tubuhnya memanjang dan tipis menyerupai pita (Gambar 9)
7 Panah/sagittiform yakni ikan yang bentuk tubuhnya menyerupai anak panah (Gambar 10)
8 Bola/globiform yakni ikan yang bentuk tubuhnyamenyerupai bola (Gambar 11)
9 Kotak/ostraciform yakni ikan yang bentuk tubuhnya menyerupai kotak (Gambar 12)

b.Non simetri bilateral
Ikan yang non simetri bilateral diantaranya adalah ikan sebelah dan ikan lidah


2. Bentuk Mulut Ikan


Ada beberapa macam bentuk mulut ikan. Bentuk mulut ikan antara jenis ikan satu dengan jenis ikan lainnya berbeda-beda tergantung pada jenis makanan yang dimakannya. Secara umum ada empat jenis mulut ikan yaitu:
1. Bentuk seperti tabung (tube like)
2. Bentuk seperti paruh (beak like)
3. Bentuk seperti gergaji (saw like)
4. Bentuk seperti terompet
Mulut Dapat Disembul dan Tidak
Berdasarkan dapat tidaknya disembulkan, mulut ikan dibedakan menjadi 2, yakni:
1. Dapat disembulkan (Gambar 16)
2. Tidak dapat disembulkan
Posisi Mulut
Posisi mulut pada ikan juga bervariasi tergantung dimana letak habitat makanan yang akan dimakannya. Ada empat macam posisi mulut ikan yakni
1. Posisi terminal, yaitu mulut yang terletak di ujung hidung (Gambar 17)
2. Posisi sub terminal, yaitu mulut yang terletak dekat ujung hidung (Gambar 18)
3. Posisi superior, yaitu mulut yang terletak di atas hidung (Gambar 19)
Posisi inferior, yaitu mulut yang terletak di bawah hidung (Gambar 20





3. Bentuk Sirip

Bentuk sirip pada ikan baik sirip punggung, sirip dada, sirip perut, sirip belakang (dubur) maupun sirip ekor beraneka ragam untuk lebih jelasnya bisa diperhatikan Gambar 3 sampai dengan Gambar 20. Dari semua sirip-sirip tersebut yang lebih khas bentuknya dan terdapat pada berjenis-jenis ikan adalah sirip ekor. Pada dasarnya ada sepuluh macam bentuk sirip ekor (Gambar 1-20 dan Gambar 21), yakni:


1. Sirip ekor bercagak seperti pada ikan mas (Cyprinus carpio), ikan tawes (Puntius javanicus), ikan bawal (Pampus sp), dan sebagainya.
2. Sirip ekor berpinggiran tegak, seperti pada ikan buntal (Tetraodon sp)
3. Sirip ekor berpinggiran tegak, seperti pada ikan tambakan (Helostoma temmincki)
4. Sirip ekor berlekuk kembar, seperti pada ikan Scatophagus argus
5. Sirip ekor berbentuk membundar, seperti pada ikan gurame (Osphronemus gouramy)
6. Sirip ekor berbentuk bajir, seperti pada ikan bloso (Glossogobius sp)
7. Sirip ekor berbentuk meruncing, seperti pada ikan belut (Monopterus albus)
8. Sirip ekor berbentuk sabit, seperti pada ikan tongkol (Euthynus sp)
9. Sirip ekor berbentuk episerkal, dalam hal ini ekor bagian atasnya lebih panjang dibanding ekor bagian bawahnya seperti yang terdapat pada ikan atlantik sturgeon (Acipencer oxyrhynchus)
10. Sirip ekor berbentuk hiposerkal, dalam hal ini ekor bagian bawah lebih panjang dibanding ekor bagian atasnya seperti yang terdapat pada ikan caracas (Tylosurus sp)

4. Linealateralis (LL)
Kalau kita perhatikan morfologi ikan, kita eringkali mendapatkan ada semacam garis titik-titik pada ikan yang dikenal dengan istilah lineateralis (LL). Linealateralis adalah garis yang dibentuk oleh pori-pori, sehingga LL ini terdapat baik pada ikan yang bersisik maupun ikan yang tidak bersisik. Pada ikan yang tidak bersisik LL terbentuk oleh pori-pori yang terdapat pada kulitnya, sedangkan pada ikan yang bersisik LL terbentuk oleh sisik yang berpori. Pada umumnya ikan mempunyai satu buah garis LL, namun demikian adapula ikan yan mempunyai beberapa buah LL. LL ini berfungsi LL untuk mendeteksi keadaan linkungan, terutama kualitas air dan juga berperan dalam proses osmoregulasi.
Selain hal tersebut di atas, ikan seringkali mempunyai ciri-ciri khusus, dalam hal ini ada ikan yan mempunyai finlet, skut atau kil dengan definisi sebagai berikut.
• Finlet adalah sirip-sirip kecil yang terdapat di belakang sirip punggung dan sirip belakang (dubur), contohnya akan kita dapati pada ikan kembung (Rastrelliger sp) (Gambar 22)
• Skut adalah kelopak tebal pada bagian perut atau bagian pangkal ekor ikan selar (Caranx sp) (Gambar 23)
• Kil adalah rigi-rigi yang puncaknya meruncing dan terdapat pada pada batang ekor, seperti yang terdapat pada ikan tongkol (Gambar 24)
• Sirip lunak (adipose fin) adalah sirip tambahan berupa lapisan lemak yang ada di belakang sirip punggung atau sirip belakang seperti pada ikan jambal (Ketengus sp) (Gambar 25)
5. Ciri Meristik dan Ciri Morfometrik
Dalam menentukan identifikasi seringkali kita melakukan pengukuran-pengukuran dan penghitungan yang dikenal dengan ciri meristik dan morfometrik. Adapun yang dimaksud dengan meristik adalah ciri yang berkaitan dengan jumlah bagian tubuh tertentu seperti jumlah jari-jari keras dan jumlah jari-jari lemah pada sirip punggung, dan sebagainya. Adapun yang dimaksud dengan morfometrik adalah ciri yang berkaitan dengan ukuran tubuh seperti panjang total, panjang kepala, dan sebagainya. Adapun ukuran yang biasa dilakukan pada ikan (Gambar 26) adalah
• Panjang total yakni jarak antara ujung kepala yang terdepan (biasanya ujung rahang terdepan) dengan ujung sirip ekor paling belakang
• Panjang baku adalah jarak antara ujung kepala yang terdepan dengan pelipatan pangkal sirip ekor
• Panjang ke pangkal cabang sirip ekor yakni jarak antara ujung kepala terdepan dengan lekuk cabang sirip ekor
• Tinggi badan yakni ukuran tertinggi antara dorsal dengan ventral
• Panjang kepala adalah jarak antara ujung kepala terdepan dengan ujung operkulum terbelakang
Krustase
Hewan air yang bernilai ekonomis penting adalah udang, kepiting dan lobster yang termasuk pada Kelas Krustase. Krustase berasal dari kata crusta yang berarti cangkang keras. Dalam hal ini krustase mempunyai eksoskeleton (kerangka luar) dari bahan kitin yang keras. Kelas Krustase ini merupakan satu-satunya klas dari filum Arthropoda yang anggotanya banyak hidup di lingkungan perairan, khususnya di laut. Kelas Krustase ini merupakan satu-satunya kelas dari Filum Arthropoda yang anggotanya banyak hidup di lingkungan perairan. Adapun morfologi udang (tubuh udang) terdiri dari kepala, toraks dan abdomen, namun antaranya kepala dan toraks bersatu dan gabungan keduanya dinamakan sefalotoraks; sehingga tubuh udang hanya terdiri dari sefalotoraks dan abdomen. Sefalotoraks diselaputi oleh karapas yang menyelubungi baik bagian dorsal dan laterial. Pada sefalotoraks terdapat antena dan antenula yang berfungsi sebagai indera (sensori), mata majemuk yang bertangkai dan dapat digerakan, mulut, mandibula dan insang. Selain itu juga terdapat kaki jalan sebanyak lima pasang. Kaki jalan ini juga disebut pereiopod.
Di bagian abdomen udang terdapat kaki renang yang sering disebut plepoid; plepoid ini berfungsi untuk berenang. Dan di bagian ujung terdapat telson dan urorod yang berfungsi untuk berenang. Tepat dibawah telson terdapat lubang anus yang berfungsi untuk melakukan ekskresi.